| "Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tak dapat dilampaui oleh masing-masing" (Al-Quran [55] : 19-20) JACQUES YVES COUSTEAU adalah seorang oceanograph dan ahli selam dari Perancis. Hampir sepanjang hidupnya diabdikan untuk membuat film dokumenter panorama bawah laut yang sebagian besar ditayangkan di Discovery Channel, saluran televisi yang banyak mengungkap misteri alam dan jagat raya. Suatu ketika saat melakukan penyelaman bawah laut, ia mendapati sekumpulan air tawar yang sangat sedap rasanya tetapi tidak bercampur dengan air laut yang hanya bersebelahan. Seolah ada sekat di antara keduanya. Fenomena ini membuat Cousteau begitu penasaran. Beberapa tahun kemudian Cousteau bertemu dengan seorang profesor muslim dan mendiskusikan hal itu. Sang profesor teringat surat ar-Rahman ayat 19-20 yang artinya: "Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tak dilampaui masing-masing". Cousteau terpesona dengan penjelasan sang profesor. Ia mengakui tak mungkin seorang Muhammad bisa menyusun al-Quran 1400 tahun yang lalu, di saat ilmu kelautan masih kalah jauh dibanding sekarang. Manusia tak mampu menyelam lebih dari 40 meter tanpa bantuan peralatan selam seperti yang kita kenal sekarang. Jacques Yves Cousteau akhirnya memeluk Islam. Subhanallah.... Bertemunya dua laut Tak hanya fenomena bertemunya air tawar dan air laut yang mencengangkan, namun juga fenomena bertemunya dua lautan yang tidak saling bercampur nampak lebih mencengangkan. Fenomena ini secara ilmiah baru diketahui belum begitu lama dikarenakan gaya fisika yang dinamakan "tegangan permukaan" air dari laut-laut yang saling bersebelahan tidak menyatu. Akibat adanya perbedaan massa jenis, tegangan permukaan mencegah lautan dari bercampur satu sama lain, seolah terdapat dinding tipis yang memisahkan mereka. Kemajuan ilmu kelautan jelas belum begitu lama usianya mengingat ilmu ini berkembang pesat seiring kemajuan teknologi seperti kapal selam berteknologi canggih, laboratorium, peralatan selam untuk manusia dan sebagainya. Pada kedalaman 200 meter lebih laut nyaris tidak ada cahaya. Hanya kegelapan semata. Di bawah 1000 meter tidak ada cahaya sedikitpun. Kini, kita telah mengetahui tentang keadaan umm lautan tersebut, ciri-ciri mahluk hidup yang ada di dalamnya, kadar garamnya, serta jumlah air, luas permukaan dan kedalamannya. Kapal selam dan perangkat khusus yang dikembangkan menggunakan teknologi modern, memungkinkan para ilmuwan untuk mendapatkan informasi ini. "Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun". (QS.[24]:40) Jelas sekali pernyataan "gelap gulita di lautan yang dalam.." tak mungkin diketahui oleh manusia 1400 tahun yang lalu. Pernyataan berikutnyapun tak kalah mencengangkan yaitu ".....yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan....". Para ilmuwan baru-baru ini menemukan keberadaan gelombang di dasar lautan, yang "terjadi pada pertemuan antara lapisan-lapisan air laut yang memiliki kerapatan atau massa jenis yang berbeda". Gelombang yang dinamakan gelombang internal ini meliputi wilayah perairan di kedalaman lautan dan samudra dikarenakan pada kedalaman ini air laut memiliki massa jenis labih tinggi dibandingkan lapisan air di atasnya. Gelombang internal memiliki sifat seperti gelombang permukaan. Gelombang ini dapat pecah, persis sebagaimana gelombang permukaan. Gelombang internal tidak dapat dilihat oleh mata manusia, tetapi keberadaannya dapat dikenali dengan mempelajari suhu atau perubahan kadar garam di tempat-tempat tertentu. Pernyataan-pernyataan dalam al-Quran benar-benar bersesuaian dengan penjelasan di atas. Tanpa adanya penelitian, seseorang hanya mampu melihat gelombang di permukaan laut. Mustahil seseorang mampu mangamati keberadaan gelombang internal di dasar laut. Akan tetapi dalam surat an-Nur, Allah mengarahkan perhatian kita pada jenis gelombang yang terdapat di kedalaman samudra. Sungguh, fakta yang baru saja dikemukakan para ilmuwan ini memperlihatkan sekali lagi bahwa al-Quran adalah kalam Allah. Dikutip dari AZZIKRA, Majalah Muslim Modern no.37 thn.4, 7 Desember 2007 - 7 Januari 2008.
|