Ramadhan telah usai. Bagi yang punya kampung, mudik
atau pulang kampung yang menjadi menu wajib penutup
ritual Ramadhan telah dijalani. Kumandang takbir,
tahmid, dan tahlil telah tak ada lagi, sudah berganti
dengan Halal bi Halal dan acara silaturrahmi ke sanak
saudara, tetangga, dan kolega. Itu kalau sempat…,
kalau tak sempat cukup dengan telepon dan SMS. Murah
meriah dan komunikasi tetap terjaga.
Dibanding rasa sedih dan kehilangan ditinggal bulan
Ramadhan -meski kadang tak diakui-, kegembiraan telah
bebas dari kewajiban berpuasa lebih terasa dan lebih
mendominasi pada diri mayoritas umat Islam. Pada
umumnya umat Islam kembali ke karakter aslinya, dari
perut ke perut. Sebulan dipendam, Lebaran saatnya
balas dendam. Acara-acara seremonial seperti buka
puasa bersama di bulan Ramadhan digeser ke acara-acara
Halal bi Halal. Setelah 6 hari puasa Syawal pun ada
Lebaran Ketupat, Riyaya Kupatan (Jawa). Kata ketupat,
kupatan sendiri ternyata konon kabarnya berasal dari
kata kaffatan (Arab) yang bermakna menyeluruh,
sempurna, menyempurnakan puasa Ramadhan. Khas budaya
Indonesia yang penuh dengan perlambang dan
upacara-upacara. Oleh para perantauan, ritual budaya
lokal tersebut ternyata sekarang berhasil diekspor ke
mancanegara. Brunei, Malaysia, dan juga di beberapa
Negara di Eropa, Amerika, dan Timur Tengah
melakukannya.
Membahas tentang Lebaran di Indonesia rasanya memang
tidak lengkap kalau tidak membahas Halal bi Halal.
Dalam khasanah ritual keagaman Islam tentu tak akan
pernah kita temukan istilah Arab Halal bi Halal.
Paling tidak dari susunan katanya pun sudah bisa
diketahui bahwa budaya tersebut bukan dari Arab.
Susunan kata tersebut tidak mengikuti kaidah bahasa
Arab. Sebagai kata benda (isim), kata halal pertama
seharusnya berbentuk halalun, sedangkan kata halal
yang kedua karena didahului huruf jer (bi) maka bentuk
seharusnya mengikuti pola jer majrur, halalin.
Sehingga seharusnya berbunyi Halalun bi Halalin.
Dan kalau kita gali lagi lebih dalam informasi tentang
Halal bi Halal, ternyata memang istilah tersebut baru
muncul di sekitar tahun 1945, dan dari khasanah budaya
Indonesia. Pada tahun tersebut terjadi peristiwa
penting bagi bangsa Indonesia, Proklamasi Kemerdekaan.
Tepatnya pada hari Jumat, 17 Agustus 1945 (tahun
Masehi), atau 17 Agustus 2605 (tahun Jepang), atau 17
Ramadan 1365 (tahun Hijriah). Deklarasi kemerdekaan
tersebut dilakukan di bulan Ramadhan, sehingga begitu
Ramadhan usai terdapat dua kenikmatan dari Allah yang
patut disyukuri oleh bangsa Indonesia. Sukses merdeka
dari penjajahan sekaligus sukses menjalankan ibadah
puasa Ramadhan, Lebaran. Acara pesta syukuran tersebut
ternyata juga dilakukan para tokoh pergerakan di
daerah Kauman, Yogyakarta. Entah ide siapa, pada saat
acara syukuran di Kauman tersebut terpasang spanduk
yang memuat frasa kata “Halal bi Halal”. Konon dari
sejak saat itulah istilah berlabel Arab “Halal bi
Halal” menjadi popular dan mendunia.
Meski tidak pernah dicontohkan Nabi, tentulah tidak
menjadi masalah. Indonesia memang bangsa yang kaya
dengan budaya, dan sebelum Islam masuk ke Indonesia
pun bangsa ini telah memiliki budaya yang tinggi.
Pertemuan antara budaya Indonesia dengan ritual
keagamaan sepanjang tidak melanggar aqidah rasanya tak
pantas dipermasalahkan. Kemeriahan Hari Raya tentulah
tak cukup hanya diisi dengan acara silaturrahmi
semata. Lebih afdhol kalau ada jajanan dan panganan
pendamping acara. Baru menjadi masalah dan patut
dipermasalahkan apabila Lebaran ternyata isinya hanya
seremoni untuk mengakhiri bulan Ramadhan. Tidak
diiringi perubahan sikap dan tingkah laku. Tidak ada
perbedaan antara sebelum dan sesudah Lebaran. Tidak
ada bekas dan pengaruh pada jiwa. Hanya berhalal bi
halal, bersalam-salaman, dan pesta. Selesai...
Sehingga Lebaran menjadi tidak bermakna.
Apa indikasinya ?
Di bulan Ramadhan kita dilatih untuk mengendalikan
hawa nafsu dengan menahan diri dari hal-hal yang
seharusnya halal kalau dilakukan di luar Ramadhan.
Dilatih mengkaji Alquran dengan tadarus. Dilatih
shalat malam dengan tarawih. Dilatih shalat wajib
berjamaah di masjid dengan shalat Isya’ dan Subuh
tepat waktu. Dilatih memperbanyak shalat sunnah.
Dilatih banyak bersedekah dan berempati terhadap
kefakiran dan kemiskinan. Lalu apakah semua latihan
tersebut membekas dalam jiwa dan masih tetap
berlanjut setelah momen Lebaran tiba ?
Lebaran baru bermakna apabila jawaban pertanyaan di
atas adalah “Ya”. Kita benar-benar berubah menjadi
lebih baik. Puasa Ramadhan kita membuat kita bisa
menahan diri dari hal-hal yang haram dan makruh,
konsisten menjalankan yang wajib, dan memperbanyak
ibadah sunnah. Tidak lagi korupsi, kolusi, dan
“maling”. Tak ada lagi bakhil, pelit, dan kikir.
Latihan-latihan mengkaji Alquran, shalat malam, banyak
bersedekah yang telah dilakukan di bulan Ramadhan
tetap berlanjut, meski dengan intensitas yang agak
berkurang dari saat Ramadhan -tetapi tentu saja harus
lebih banyak dari sebelum Ramadhan-.
“Tetapi di luar Ramadhan kan beda ! Suasana dan
situasinya beda. Di luar Ramadhan waktu 24 jam sehari
rasanya sudah tidak mencukupi. Pekerjaan menumpuk dan
kita sudah terlalu capai untuk bangun malam.” Mungkin
begitulah alibi kita.
Ya… tetapi kita hidup tentu bukan hanya untuk kerja.
Pasti ada waktu luang. Jumat dan Sabtu malam karena
esok harinya libur- bisa dijadikan sebagai latihan
untuk membiasakan diri bangun shalat malam. Memaksa
diri rutin 15 menit setiap selesai shalat Subuh
membaca terjemahan Alquran sampai khatam, bisa
dijadikan sebagai latihan dan entry point untuk
ketertarikan dan ketetapan niat bisa membaca bahasa
Arabnya. Menyisihkan sebagian gaji setiap bulan untuk
sedekah bisa dijadikan latihan untuk meminimalkan
sifat kikir.
Jika amalan-amalan tersebut konsisten kita jalankan
setelah Lebaran tiba, maka insya Allah Lebaran
benar-benar bermakna. Martabat mulia akan kita rasakan
di dunia, dan surga pun telah menanti di akhirat
nanti. Hidup akan terasa ringan. Ada “teman curhat”
yang setia, tidak ada ketakutan, dan tidak ada
kegelisahan. Tidak ada masalah yang tidak ada jalan
keluarnya. Tertutup satu pintu penyelesaian, dibukakan
Allah pintu-pintu lainnya sebagai jalan keluar.
Seandainya kaya maka kekayaannya bermanfaat, dan
seandainya pun tidak kaya tetap saja bermartabat.
Cobalah tengok cuplikan ayat-ayat surat Al Furqaan
(25) yang menjelaskan balasan Allah kepada orang-orang
yang menjalankan shalat malam dan tidak kikir. Dan
orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan
berdiri untuk Tuhan mereka . (64) Dan orang-orang yang
apabila membelanjakan (hartanya), mereka tidak
berlebihan, dan tidak kikir, dan adalah di
tengah-tengah antara yang demikian.(67) Mereka itulah
orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi
karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan
penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya (surga),
(75) mereka kekal di dalamnya. Syurga itu sebaik-baik
tempat menetap dan tempat kediaman. (76)
Atau cobalah tengok dalam kehidupan nyata orang-orang
yang konsisten shalat malam dan suka bersedekah.
Adakah mereka kesulitan dalam menjalani hidupnya ?
Rasanya tak ada orang yang ikhlas bersedekah
semata-mata hanya mencari ridlo Allah kemudian menjadi
bertambah miskin. Bahkan yang terjadi adalah
kebalikannya. Jika ikhlas bersedekah hanya karena
Allah, Allah berjanji melipatgandakannya sampai 700
kali…, bahkan sampai tak berhingga. Semakin kaya.
Kenapa ? Karena di dalam harta kita ada hak orang
miskin dan terlantar. Apabila hak tersebut kita
tunaikan dengan baik, maka Allah akan semakin percaya
kepada kita. Allah semakin banyak menitipkan harta
yang didalamnya ada hak-hak orang miskin tersebut-
kepada kita.
Seandainya pun tak berharta, tetap saja Allah
mengangkat derajatnya dengan kemudahan-kemudahan dalam
perjalanan hidupnya. Meski tidak kaya tetapi
berkecukupan. Ada saja jalan pertolongan Allah.
Wujudnya bisa bermacam-macam, bisa melalui
saudara-saudaranya, dan dalam banyak kasus diangkat
Allah martabatnya melalui anak-anaknya yang sukses dan
shalih / shalihah.
Jika amalan-amalan Ramadhan terus kita jalankan, pada
akhirnya Lebaran menjadi starting point dari semua
langkah kebaikan hari-hari berikutnya. Lebaran menjadi
lebih bermakna…
Lalu kenapa banyak orang Islam yang malang, miskin,
dan terlantar ? Karena mereka tidak menjadikan Lebaran
sebagai momen bermakna. Dalam posisi tertentu memang
perlu diragukan keislaman dan keimanan seseorang yang
sepanjang hidupnya selalu dirundung kemiskinan dan
kemalangan. Ada yang tidak benar dalam keislaman dan
keimanannya, sehingga mendapat adzab di dunia. Ada
yang salah, sehingga kemalangan yang menimpanya
bukanlah cobaan, tetapi memang merupakan hasil dari
tingkah polahnya sebagai manusia yang tidak konsisten
menjalankan ajaran Ikhsan, Iman, dan Islam.
Jika seseorang seumur-umur yang dirasakan adalah
kemalangan, tentu yang dialami bukanlah cobaan dan
ujian Allah. Apalah hebatnya dia sebagai manusia,
sehingga Allah memberinya cobaan dan ujian seumur
hidupnya ? Nabi saja tidak diuji seumur hidupnya.
Selamat hari raya Idul Fitri 1428 H, Taqabbalallahu
minna wa minkum, taqabbal yaa kariim. Mohon maaf lahir
dan batin
Semoga bermanfaat.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
ChAn
22102007